Sabtu, 19 Februari 2011

SALAHKAH AKU JIKA MENGINGINKANNYA? cerpen oleh Siti Atikah

Pagi ini aku merasa sepi...entah apa yang membuat aku merasa seperti itu. terasa menyedihkan tapi tidak sedih, terasa tegang tapi tidak tegang, dan terasa mati tapi tak mati. Aku berkata dalam hati “Apa yang terjadi dengan diriku?”

Ku menatap kedua telapak tanganku. Kurasakan kehangatan sinar matahari yang masuk melewati celah-celah pagar kamarku. Tak lama kemudian terdengar suara ibu memanggil, “Ika…ayo cepat bangun!”

“ya bu, aku sudah bangun”.

“aruan ntan, ndak lale-lale! (cepatan, jangan lalai!)”

Saya pun segera bergegas karena aku tak mau ibuku kecewa padaku. Aku sudah menanamkan dalam hati sejak masih berada di bangku SD untuk menjadi anak yang rajin. Aku tahu kalau ibu selalu bangun pagi sekali untuk menyiapkan dagangannya. Dia bekerja keras agar aku bisa bersekolah sampai aku bisa menikmati nikmatnya ilmu di bangku SMA sekarang. Akan tetapi ayah berbeda. Ayahku berpendapat kalau seorang perempuan tak perlu sekolah, sebab kelak dia akan punya suami yang akan menangggungnya. Sebenarnya itu bukan pendapat ayah, melainkan sebuah kepercayaan zaman purba yang mengatakan seorang perempuan tak pantas berdiri tegak setinggi laki-laki.

“tapi saya tidak mau mengalah begitu saja pada aturan yang tak jelas itu. lihat saja saya akan buktikan pada ayah dan kaum laki-laki di seluruh dunia ini bahwa seorang wanita juga bisa!” begitulah saya selalu menyemangati diriku untuk tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan ini. Dengan dasar itulah aku mampu berprestasi di sekolah. Tak heran aku selalu unggul di sekolah dari sejak bangku SD sampai SMA sekarang.

Disekolah… waktu jam pelajaran matematika. Seperti biasa aku mendengarkan dengan penuh perhatian penjelasan ibu guru di depan kelas. Aku duduk di bangku paling depan agar aku bisa lebih mendengar guru menjelaskan. Jika aku duduk dibelakang, aku tidak akan pernah bisa berkonsentrasi karena teman-teman saya yang duduk paling belakang lebih senang ngerumpi daripada harus mendengarkan guru berceloteh di depan kelas.

Waktu keluar main tiba. Semua teman-teman memilih tempat favorit mereka untuk mengisi waktu istirahatnya yaitu, kantin.

“Ika…kekantin yuk!” ajak Almaidah teman dekat saya

“sory Al, saya disini saja baca buku” kataku karena saya memang lebih suka baca buku. Memang kerena tidak punya uang juga sich. Hehe

“ayolah… saya teraktir” lanjut almaidah

“ sungguh?” tanyaku meyakinkan

“ya…masak sama teman baik sendiri saya bohong”

“ya dech…ayolah kalo begitu”

Tepat jam 02.45 bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku pulang sekolah dengan jalan kaki karena jarak rumah dengan sekolah tak terlalu jauh, Cuma 2 km saja.

“ah, sekalian olah raga” kataku menyemangati diri ketika kaki ini sudah mulai merasa mulai lelah berjalan.

Berjalan,berjalan, dan terus berjalan, sampai akhirnya sampai juga rumahku. Untuk menghilangkan rasa pegal di kaki aku langsung kekamar dan merebahkan badan di tempat tidur.

“huft, capek juga” kataku sendiri sambil memandang langit-langit kamarku.

“kalau aku lulus SMA nanti, aku mau kuliah di UI saja jurusan sastra dan linguistic karena aku kan jurusan bahasa. Setelah aku diterima di UI nanti aku akan belajar dengan sungguh-sungguh supaya  aku bisa lulus sarjana S1. Hmmm…pasti aku akan sangat senang bila aku bisa melanjutkan sampai S2 dan S3 dan aku bisa bergelar doctor. Yasudahlah, aku tak usah berfikir terlalu jauh dulu, yang penting saya bisa kuliah saja lah dulu” begitulah lamunanku selama di kamar yang kurasa cukup sulit bahkan sangat sulit aku wujudkan karena untuk membayar SPP saja ibu harus kerja ekstra.

“ika…”suara ibu memanggil dari ruang tengah

“ya, bu”

“kesini sebentar!”

“ya, tunggu sebentar! Aku mau ganti baju dulu”

“ganti bajunya nanti saja!cepat kesini!” perintah ibu lebih menekan. Dari caranya itu, sepertinya ada hal penting yang ingin ibu sampaikan. Aku pun segera menuju ruang tengah. Disana kulihat ibu dan aya sedang duduk diatas kursi ruang tengah. Ibu terlihat sedih dengan mata memerah menahan air mata yang sangat berat untuk ditahan. Sedangkan ayah terlihat sedang menghisap rokoknya.

“duduk!!”perintah ayah dengan suara tegas

aku pun bertanya pelan“ada apa pak, buk?”

ayah menghisap rokok panjang dan “BRAK!!” kudengar suara meja terpukul dengan sangat kerasnya oleh sebuah tangan yang keras pula.tangan ayah. Tangan ayah sepertinya ingin menari di pipiku, akan tetapi, mungkin dia masih punya hati sehingga meja menjadi sasaran.

“dasar anak kurang ajar!!tidak tahu diri!!kami capek-capek bekerja untuk menyekolahkanmu, tapi apa?!begini caramu!”suara ayah meninggi

“maksud ayah apa?” heran dan ketakutan berbaur menjadi satu dalam pertanyaanku itu.

“kemarin datang surat dari sekolahmu yang berisi panggilan kepada kami sebagai orang tuamu”.ayah semakin keras dan “PLAK” satu tamparan mendarat di pipi sebelah kananku. Aku menangis sambil memegang pipi ku yang terasa sakit, perih, dan panas.

“kamu tahu apa yang membuat kami begitu sakit mendengar berita itu?”

Aku hanya terdiam terisak mendengar ayah yang sedang marah padaku tanpa tahu apa yang ayah maksdukan.

“kenapa kamu nak? Ibu lelah-lelah bangun pagi menyiapkan dagangan untuk mendapatkan sekeping koin untuk kamu sekolah. Jika kamu merasa kurang dengan apa yang ibu berikan selama ini, kamu boleh minta lagi nak, asal kamu jangan sampai berbuat yang tidak baik  sampai-sampai berani mencuri uang temanmu Almaidah”. Serentak tubuhku terdiam mendengar apa yang dikatakan ibu barusan. Aku telah dituduh mencuri uang sahabatku sendiri.

“aku tak pernah melakukannya Bu…”

“diam!!jangan kamu coba membantah lagi. Sudah jelas-jelas kepala sekolahmu sendiri yang mengatakannya pada kami bahwa kamu sudah mencuri uang temanmu Almaida”.

“tapi ayah…sungguh! Saya tidak pernah melakukannya”.

“sudah nak, kamu ngaku saja biar semuanya bisa cepat selesai!”

“sungguh bu, aku tak pernah melakukan itu”.

“mulai besok, kamu tidak usah ke sekolah lagi!!titik.” kata ayah dipuncak marahnya.

Kesokan harinya ku terbangun dari tidurku dengan perasaan tak menentu. Hangatnya matahari yang menyusup melalui pagar kamarku tak sehangat hari-hari sebelumnya. Entah apa yang aku inginkan saat ini. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Dalam hatiku yang terdalam sebenarnya aku ingin sekolah.

Lama aku terdiam. Menangis, menagis, dan terus menangis layakya seorang perempuan lain yang sedang di rundung kesedihan dan dengan menangis mereka bisa lebih terhibur.

“tapi, aku tak mau seperti itu. aku harus pergi sekolah!”sebuah semboyan semangat berdosis tinggi telah ku suntikan dalam tubuhku.

Sampai di sekolah dengan diam-diam tanpa sepengetahuan ayahsetelah berjuang  menerobos jendela dan pagar tetangga yang tingginya kira-kira 2,5 meter itu.

Disekolah semuanya tampak seperti  biasanya. Tidak ada yang berubah mengigat apa yang dituduhkan kepadaku. Aku juga ingin memastikan siapa dalang di balik semua tuduhan itu. aku yakin sahabatku Almaidah tidak mungkin melakaukan perbuatan fitnah itu. pokoknya aku harus bertemu Almaidah.

Jam pelajaran pertama pun dimulai, aku masih melihat bangku yang diduduki Almaidah masih kosong. Aku mencoba melihat sesekali keluar kelas melalui jendela, mungkin Almaidah masih dalam perjalan kekelas. Namun, sampai guru datang untuk mengajar kekelas pun Almaidah tak kunjung datang. Lalu kutanyakan kepada Yosie yang merupakan teman duduk Almaidah.

“yosie, Almaidah kenapa tidak masuk?”

“katanya sih, dia sedang sakit tips dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit”.

“hah??!” responku kaget

“rencananya nanti saya sama Fany dan Ela akan menjenguknya. Kamu mau ikut??”

“oke, saya ikut” jawabku girang karena siapa tahu aku bias bertanya pada Almaidah disana.

Di rumah sakit, sebuah selang impus di pasang di pergelangan tangannya. Dia tampak tak sadarkan diri. Aku mengurungkan niatku lagi.

Bergegas dan berlari.

“aku harus cepat! Kalau ayah tahu aku tidak ada di rumah, aku bisa dihabisi suara ayah yang mengerikan atau lebih parah lagi, aku bisa di pukul nich”. Berkata dalam hati sambil beerlari.

Aku masuk dari belakang melewati jalur yang sama dengan yang kulewati untuk pergi tadi pagi. Pagar tetangga ku terjang. Pelan-pelan kubuka jendela kamarku yang sengaja tidak aku kunci tadi pagi agar aku bisa melewatinya saat pulang nanti. Tapi anehnya, jendela itu tidak bisa dibuka dan terpaksa aku lewat pintu depan yang merupakan pintu satu-satunya dari rumahku. Aku berdoa dalam hati

“ya Tuhan, ,mudahan saja ayah tidak ada dirumah”.

Kubuka pintu pelan-pelan supaya tidak ketahuan. Akan tetapi, aku tidak beruntung. Diruang tengah, ayah sedang duduk di atas kursi dengan memegang sebuah rotan berukuran kecil sambil menghisap rokok. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendatangi ku,, dan sebuah pukulan rotan kecil mendarat di pipi sebelah kananku dan aku pun terjatuh. Aku mendengar suara jeritan ibu sebelum kesadaranku memudar dan hilang.

Aku lihat ibu tersenyum bahagia di barengi tangisan gembira karena melihatku sudah menjadi sarjana linguistik. Aku mendekatinya dan dia berkata pelan padaku.

“anakku … sekarang kau adalah seorang sarjana. Kau sudah ada di atas cita-cnta yang kau damba. Tak sia-sia ibu membanting tulang untuk menyekolahkanmu selama ini. Rasa bahagian ini, tak bisa ibu katakan dengan kata-kata, tak bisa diungkapakan dengan pribahasa, dan ibu umapamakan dengan perumpamaan. Mulai sekarang kau harus menjalani hidupmu sendiri. Jadilah orang yang berguna bagi bangsa dan negaramu. Selamat tinggal anakku” mengilang bersama cahaya putih laksama matahari.

“ibu…ibu jangan pergi…”suara ku terasa tak bisa keluar.

Aku terbangun. Mimpi itu terasa begitu nyata. Apa sebenarnya maksud dari mimpi itu. Aku juga berharap ketika ayah memukulku juga adalah sebuah mimpi belaka, akan tetapi kuraba pipi sebelah kananku ternyata masih terasa sakit. Aku melihat jam weker yang ada di atas meja belajarku. Sudah jam sepuluh malam. Ternyata aku pingsan cukup lama.

Kembali aku meratapi nasibku yang malang ini. Rasanya aku sudah mulai tak sanggup menjalaninya lagi.



“aku tak ingin hidup lagi!”

Ku akhiri hidup ini. Kuambil sebuah silet dan kuputuskan urat tanganku. Darah mengalir. Dan aku pu tiada sadarkan diri. Mungkinkan aku sudah mati.

“aku ada dimana? Apa aku sudah mati” kubertanya pada diriku sendiri. Tapi kurasa belum, sebab kulihat ibu bersamaku dan menangis. Kucoba mengeluarkan suara walau agak sulit kurasa.

“ibu, maaf” entah apa yang mendorong saya untuk minta maaf pada ibu.

“sudahlah nak…ibu sudah tahu, kamu tidak salah surat itu seharusnya tidak dikirim ke kita”

“sungguh?” kataku mendengar cerita ibu yang agak lucu itu.

“hai Ika…cepat sembuh ya” sapa Almaidah yang sudah ada didekatku juga

Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya. Ternyata Almaidah juga datang bersama teman sekelasku. Kehadiran mereka ternyata mampu membangkitkan semangat kita untuk terus hidup dan meraih cita-citaku….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUAT TEMAN-TEMAN SEMASA SMAKU, AKU MENCINTAI KALIAN.